3 Saksi PT. MMJ Hadir dalam Sidang di PN, Aneh,,Satupun Tak Singgung Soal Bagi Hasil Plasma

Diterbitkan Tanggal: 29 / 06 / 18

Kategori: | Bengkalis, HUKUM & KRIMINAL, TODAY |

RIAUEXPRESS, BENGKALIS – Sidang lanjutan Gugatan 5 Kelompok Tani di Desa Darul Aman, Kecamatan Rupat terhadap PT. Marita Makmur Jaya (MMJ), dengan menghadirkan saksi dari pihak tergugat di Pengadilan Negeri (PN) Bengkalis, sangat menarik untuk disimak, Kamis (28/06/18) petang.

Meskipun sidang yang berlangsung sekitar 5 jam dari pukul 15.30-19.30 WIB tersebut merupakan agenda terakhir menghadirkan saksi dari pihak Penggugat dan Tergugat dianggap sangat melelahkan, namun Majelis Hakim yang dipimpin Ketua Zia Ul Jannah, SH, dua hakim anggota Wimmi D. Simarmata, SH, dan Aulia Fhatma Widhola, SH terus menyimak pernyataan saksi yang dihadirkan pihak Tergugat, untuk mengungkap kebenaran diantara kedua belah pihak (Penggugat dan Tergugat-red).

Saksi yang dihadirkan pihak Tergugat (PT. MMJ), yang telah dipercayakan Pendamping Hukum Heru Susanto berjumlah tiga orang, yakni Said Amir Hamzah selaku saksi salah satu pemilik lahan yang pada akhirnya dijual pada PT. MMJ seluas 150 hektar.

Saksi kedua yang dihadirkan dalam sidang ini bernama Jhonson Singo Lingo, yang merupakan mantan Kepala Tata Usaha (KTU) PT. MMJ sekitar tahun 2006-2008. Dan terakhir saksi bernama Edi Hutabarat, yang merupakan mantan Mandor Kebun PT. MMJ di tahun 2005-2008 lalu.

Ketiga saksi ini setelah disumpah sesuai agama dan keyakinan masing-masing, menyampaikan kesaksian dihadapan Majelis Hakim dengan cara terpisah dan bergiliran satu-satu hingga sampai giliran saksi yang ketiga.

Saksi yang pertama yang dihadirkan oleh PH tergugat ke hadapan Majelis Hakim adalah Mantan Mandor Kebun PT. MMJ, yakni Edi Hutabarat. Dalam kesaksiannya, Edi ini sebatas menyampaikan kerja di PT. MMJ saat itu sebagai Mandor Kebun di Devisi 1, 3 dan 7.

Namun ketika ditanya perkara yang sedang disidangkan, dari persoalan timbulnya gugatan 5 kelompok tani kepada PT. MMJ, lantaran pihak Perusahaan tidak menempati janji bagi hasil Plasma yang pernah disepakati bersama, saksi Edi Hutabarat ini mengaku tidak tahu.

Selanjutnya saksi kedua yang dihadirkan, mantan Kepala Tata Usaha (KTU) PT. MMJ, Jhonson Singo Lingo, yang telah bekerja sekitar tahun 2006-2008. Dalam kesaksiannya mengatakan, bahwa pernah membayar saguh hati kepada kelompok yang mengaku punya lahan dari grup Johor berjumlah 7 orang, selama 6 tahap awal pembayaran di Bulan Maret tahun 2006-2007, dengan bukti kwitansi saja, dengan tandatangan Johor yang saat itu sebagai Ketua RT setempat.

Sehingga dengan cara pembayaran seperti itu, Majelis Hakim dengan heran mengatakan, “enak kali kalau begitu, siapapun yang mengaku punya lahan saja, langsung bisa di bayar oleh PT. MMJ, “ujar Ketua Majelis Hakim Zia Ul Jannah.

“Itu, setelah dicek ke lapangan kok Majelis, baru dibayar, “ujar saksi Jhonson yang diiringi ketawa para pengunjung sidang, lantaran dari kata-kata saksi.

Ketika Mejelis menanyakan soal adanya Koperasi Unit Desa (KUD) Rupat Jaya sebagai mitra PT. MMJ yang diketuai oleh Zaili. Saksi Jhonson mengaku tidak tahu kalau ada Koperasi tersebut, dan bahkan dengan Zaili juga tidak kenal.

“Saya sebagai KTU saat itu hanya bertugas membayar saja, Majelis, “timpal Saksi.

Mantan KTU PT. MMJ Jhonson ini, juga mengaku dihadapan Majelis Hakim, pernah melihat peta kerja PT. MMJ, tapi sudah lupa (gambar petanya seperti apa-red).

Selanjutnya, saksi ketiga yang dihadirkan bernama Said Amir Hamzah, yang mengaku punya lahan di lokasi Desa Darul Aman seluas 150 hektar sejak tahun 1981 setelah ditawari oleh Camat Rupat saat itu bernama Rahim Ilyas.

Lahan atas pemberian Camat Rupat seluas 150 Hektar tersebut, awalnya saksi mengaku berupa hutan belantara. Dan setelah mendapat tawaran dari Camat, langsung membatasi sebagai bukti kepemilikannya dengan menebas ranting-ranting hutan.

Dan ditahun 2005 lalu, lahan yang diakui milik Said Amir Hamzah tersebut, dikatakan telah dijual (diganti rugi-red) oleh PT. MMJ.

Saksi ini juga mengaku pernah melihat foto kopian 5 kelompok tani, namun tidak tahu persis siapa-siapa saja orang di dalamnya. Dan juga tidak tahu persis posisi lahan milik kelompok tani tersebut.

Dari keterangan saksi ini, Mejelis Hakim berkesimpulan, bahwa PT. MMJ memang sangat baik sekali, sebab siapapun yang mengaku punya lahan, langsung bisa dibayar.

Said Amir ini juga katakan dihadapan majelis hakim, tidak mau tahu kalau ada orang lain yang mengklaim sebagai pemilik, ataupun di lokasi tersebut ada perumahan atau tidak, “Yang penting Perusahaan mau membayar, maka uang saya terima, “ungkap Saksi.
‎‎‎
Sidang ini akan dilanjutkan pada hari Selasa (10 Juli 2018) dengan agenda Kesimpulan Perkara. Dan pada hari Selasa (24 Juli 2018), direncanakan agenda Sidang Putusan.

Lima kelompok yang menggugat ke PT. MMJ, dengan PH Sabaruddin tersebut, pertama kelompok Tani Darussalam, Darul Ikhsan, Tunas Harapan, Tunas Gemilang dan Pasir Indah, terhadap PT. Marita Makmur Jaya (MMJ).

Sedangkan lahan yang menimbulkan gugatan ke PN ini ada dua titik, yakni dengan kategori gugatan 1 atas nama Jauhari seluas lahan 375 H, dan gugatan 2 atas nama Ahmad H alias Eka seluas lahan sekitar 600 H.

Gugatan ini muncul, lantaran PT. MMJ tidak menempati janji apa yang telah disepakati (MoU) bersama pada tanggal 3 Agustus 1999 lalu, berupa lahan di 2 titik seluas 375 H dan 600 H, digarap pihak PT. MMJ, dan kelompok tani mendapatkan lahan seluas 218 H, yang telah ditanam pokok sawit dengan pola bagi hasil Plasma sistem KKPA.

Sehingga dengan perkara ini, PT. MMJ digugat oleh lima kelompok tani tersebut, ke Pengadilan Negeri (PN) Bengkalis, yang saat ini merupakan sidang agenda terakhir menghadirkan saksi dari Penggugat dan pihak Tergugat.**

         

Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!