Mosi Tak Percaya, Soal “Deforestasi” di Negeri ini

Diterbitkan Tanggal: 15 / 05 / 18

Kategori: | OPINI, TODAY |

Ilustrasi

 

Kita telah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal!. Kita sudah membakar jembatan dibelakang kita – dan lagi, kita juga sudah menghanguskan daratan di belakang kita! Dan kini, hati-hatilah, kau kapal mungil! Samudera raya mengelilingimu.

Memang benar, ia tidak senantiasa mengaum, dan kadang-kadang dia tampak lembut bagaikan sutera, emas dan mimpi yang indah. Namun akan tiba waktunya, bila kau ingin tahu, bahwa dia itu tidak terbatas.

Oh, burung yang malang yang mersa bebas dan kini menabrak dinding-dinding sarangnya! Ya, bila kau sedang rindu akan daratanmu (Land Heimweh) yang seolah menawarkan kebebasan lebih banyak-dan tak ada daratan lagi (Friedrich Wilhelm Nietzsche)

Ilustrasi

 

RIAUEXPRESS – Ketika kita berbicara tentang alam jagad raya, barangkali ‘lingkungan adalah satu bagian kecil-alam yang mudah luput dari pandangan mata. Memang, lingkungan bukan ibarat singa yang selalu mengaum menunjukkan keperkasaannya. Atau berteriak ketika dieksploitasi.

Lingkungan bahkan terasa lebih dekat dengan kita, manusia sebagai mahluk sosial begitu bersahabat, dekat dan tulusnya, sehingga terasa lembut ibarat sutera. Namun, ironisnya ia juga begitu mudah dilupakan. Mengapa?

Sekarang kita menyaksikan bersama realitas keadaan lingkungan hidup yang makin memprihatinkan disekitar kita. Sadar atau tidak sadar harus menyadari karena keadaan lahan hutan tidak mampu untuk dipertahankan. Perubahan tak mampu dicegah, perkembagan tak mampu diingkari.

Kini, indonesia hanya akan menggenang pernah menjadi salah satu daerah di dunia yang memiliki keanekaragaman hayati paling tinggi dan memiliki hutan paling luas. Hutan merupakan aset terbesar untuk mengatasi perubahan iklim karena dapat bertindak sebagai penyerap karbon dan digunakan untuk memenuhi target pengurangan emisi nasional seperti yang tercantum dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.

Iya beberapa tahun belakang ini, sebagian besar hutan Indonesia telah mengalami alih fungsi lahan untuk mendukung industri kelapa sawit dan juga industri pulp dan kertas. Tidak menjadi rahasia lagi lahan gambut yang juga menyimpan dan berpotensi menyerap banyak karbon, telah digantikan oleh perkebunan kelapa sawit dan pohon untuk industri pulp dan paper.

Akar masalah lingkungan merupakan isu yang seksi di negeri ini, sangatlah kompleks. Kepentingan politik, korporasi besar, dan kurangnya penegakan hukum yang terjadi saat ini memperparah kerusakan hutan. Serta pertanian memainkan peran dan menempatkan pembangunan berkelanjutan, kemakmuran ekonomi dan perubahan iklim jadi taruhan.

Hubungan deforestasi antara keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim sangat jelas karena bukan kekhawatiran lagi akibat dari lajunya pembangunan yang bersifat penebangan/pembukaan lahan hutan besar-besaran dan pembakaran, alih fungsi hutan menyebabkan kepunahan berbagai spesies mahluk hidup, sangat tergangu yang kehidupannya memang bergantung pada hutan. sehingga sangat rentan kehilangan habitat, ulah dari hal yang di atas.

Semakin berkurangnya tempat areal mereka berpijak susahnya untuk mencari makan dan beristirahat tidak terbentang luas lagi untuk mendapatkan mangsa yang cukup, perkembangbiakan menjadi terhambat, kehidupan mereka harus berpindah-pindah semakin terancam.

Hutan merupakan ekosistem yang kompleks yang mempengaruhi hampir setiap spesies di bumi ini. Ketika mereka terdegradasi, dapat memicu rentannya rantai peristiwa yang mengkhawatirkan baik lokal maupun dunia.

Keanekaragaman hayati mencakup sebagai hubunngan kehidupan yang tidak terlepas dari aspek sosial, ekonomi dan lingkungan serta aspek pengetahuan, juga etika. Karena kondisi yang mengkhawatirkan ini tercetuslah Konvensi Keanekaragaman Hayati untuk menghentikan kerusakan yang semakin parah diperlukan sebuah kesepakatan yang mengatur penggunaan sumber daya hayati.

Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk Konvensi Keanekaragaman Hayati. Konvensi ini tiga tujuan utama yaitu, melestarikan keanekaragaman hayati, memanfaatkan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati, dan memastikan pembagian keuntungan yang adil dari hasil pemanfaatan sumber-sumber genetik.

Deforestasi ketika kita kehilangan hutan kita kehilangan sekutu penting dalam menjaga kelebihan karbon keluar dari atmosfer, ditambah bahkan lebih banyak emisi dibuat ketika pohon ditebang atau pohon mati, mereka melepaskan karbon yang tersimpan, dan apa yang paling sering menggantikan hutan sekarang menghilang, ternak dan tanaman, menghasilkan jumlah besar lebih banyak gas rumah kaca.

Hello kawan, rasanya kita sudah terbiasa dengan apa yang kita lihat setiap hari mobil truk besar dari hulu ke hilir bermuatan kayu menuju rumah produksi nya. Tidak cukup disitu saja ketika di laut tidak luput juga dengan pemandangan gagah kapal ponton muatan kayu yang akan siap di olah ketika sampai tujuan nya, bergerak perlahan di lautan seperti lukisan di dinding rumah yang memiliki harga mahal meski tanpa pelukis berjalan menghanyutkan.

Bukan tidak mungkin lagi dan telah terjadi sekarang kerusakan lahan gambut akibat dari alih fungsi lahan menjadi hutan tanam industri, sedangkan lahan gambut sangat memiliki fungsi untuk planet ini. Pada kondisi alami, lahan gambut tidak mudah terbakar karena sifatnya yang menyerupai spons, yakni menyerap dan menahan air secara maksimal sehingga pada musim hujan dan musim kemarau tidak ada perbedaan kondisi yang ekstrem.

Namun, apabila kondisi lahan gambut tersebut sudah mulai terganggu akibatnya adanya konversi lahan atau pembuatan kanal, maka keseimbangan ekologisnya akan terganggu. Pada musim kemarau, lahan gambut akan sangat kering sampai kedalaman tertentu dan mudah terbakar.

Gambut mengandung bahan bakar (sisa tumbuhan) sampai dibawah permukaan, sehingga api di lahan gambut menjalar di bawah permukaan tanah secara lambat dan sulit dideteksi, dan menimbulkan asap tebal. Api dilahan gambut sulit dipadamkan sehingga bisa berlangsung lama (berbulan-bulan). Dan baru bisa mati total setelah adanya hujan yang itensif.

Ini adalah wajah dewasa dari hutan kita saat ini keserakahan yang tidak terkendali, kurang nya kepedulian dan rasa empati untuk mahluk hidup. Tanpa henti kerusakan atau kahancuran dari alam kita dalam mengejar kekayaan materi dan kemajuan.

Suatu perjalanan yang panjang dari dulu hingga sekarang akibat dari suatu sistem politik dan ekonomi yang menganggap sumber daya alam, khusus nya hutan, sebagai sumber pendapatan yang bisa dieksploitasi untuk kepentingan politik dan keuntungan pribadi. Perkebunan di negeri ini terbukti sangatlah menguntungkan.

Sehinga pembangunan yang terjadi hanya mengutamakan pemilik modal dan mengesampingkan masyarakat miskin, masyarakat adat dan lokal atau penduduk asli sebagai kepentingan keberlanjutan ekosistem dan sumberdaya alam. Masyarakat yang dikesampingkan tidak memiliki pilihan lain kecuali ikut melakukan eksploitasi sesuai dengan keinginan perusahan penguasa dalam pemanfaatan hutan.

Lemahnya kebijakan dalam hal ini membuat hanya memikirkan kepentingannya tanpa melihat dan memperhatikan adanya untuk membangun koordinasi untuk melakukan pengelolaan yang efektif dan efisien serta berkelanjutan.

Saya dan anak muda lainnya tidak ingin mewarisi pekerjaan yang telah anda lakukan atas nama kerusakan hutan. Hutan disekitar tempat tinggal kami merupakan tempat belajar dan bermain karena alam adalah ilmu yang alami,

Oh ya!! masih belum terhapus memori beberapa tahun yang lalu pulau padang Kecamatan Tasik Putri Puyu yang dikenal sebagai pulau yang di penuhi dengan hutan murni yang segar, hijau, dan memiliki keindahan alam yang tersembunyi seperti Tasik/danau putri puyu dan beberapa hewan langka seperti kancil, trenggiling, enggang, elang, tapi sekarang semua itu tidak lagi harmonis lagi lingkungan tersebut bagi masyarakat dan saya sendiri.

Kegiatan alih fungsi lahan, hutan rawa yang dulu nya lebat dengan pepohonan yang hijau dengan layak disebut sebagai hutan rimba kini menjadi gersang, kering dihisap oleh kanal-kanal yang berserakkan. suasana hutan yang udara nya dingin menjadi panas oleh uap yang dikeluarkan dari permukaan lahan gambut. hutan gambut tidak lagi dapat anda lihat seluas dahulu kala nya karena sudah tumbuh hutan yang baru “Hutan Tanam Indusrti”.

Selain perubahan suhu yang terjadi hal tersebut juga mengakibatkan banyak spesies flora maupun fauna yang tidak mampu beradaptasi terhadap kondisi Alih fungsi lahan sehingga menyebabkan kematian dan pada akhirnya banyak kehilangan keanekaragaman. beberapa kawasan perdesaan mendapat dampak dari berkurangnya fungsi hutan yang sangat erat hubungannya dengan masyarakat tempatan. Sebagian besar kehidupan perekonomian kehidupan mereka berasal dari hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan keterangan dari masyarakat dan sahabat saya di desa tempatan, menurut saudara Tanjung ketika kita berbicara tentang keadaan lingkungan yang terjadi maka sangat banyak hal yang mengecewakan, hutan yang dulunya menjadi kebutuhan masyarakat telah lenyap sehingga susahnya memanfaatkan kayu hutan untuk kebutuhan masyarakat.

Sebagai Desa yang berada dikepulauan hal ini sangatlah buruk bagi kesejahteraan masyarakat, dimana kehadiran korporasi menjadi melemahnya adat istiadat dan ekosistem suatu desa. Pada tahun 2015 telah terjadi kebakaran hutan dan lahan yang menggakibatkan asap dan kabut dimana-mana sehingga banyak warga mengalami sesak nafas dan meliburkan semua sekolah.

Pada tahun 2016 perusahaan melakukan penanaman akasia dan sejak saat itu juga datang nya beberapa hama (kumbang) yang menyerang perdesaan mengakibatkan mati nya berbagai macam tanaman masyrakat seperti kelapa dan sagu.

Kemudian begini pula pendapat lain dari saudara Alba dampak yang ditimbulkan dengan adanya korporasi penggarap hutan dan lahan, hilangnya tanaman hutan yang pada dulunya bisa dimanfaatkan untuk kehidupan masyarakat baik yang untuk dikonsumsi maupun tidak.

Dan munculnya dua sisi pandangan pro dan kontra dari masyarakat. Saat ini perkebunan masyarakat perlu diperhatikan secara khusus menjaga dan merawat dengan baik karena banyak hewan liar berkeliaran mencari makan dan merusak tanaman kebun masyarakat.

Disini juga seorang sahabat kami Bang Kijang menyampaikan keadan pada tahun 2015 yang lalu sembari menginggat keadaan waktu itu dengan dahinya berkerut dia bilang disaat kebakaran itu asap menjadi awan, berharap tanahnya mulia kosong di depan mata banyak asap disana menanam tak bisa menangis pun sama.

Dari inggatan mereka dalam pembicaraan ini teman dan masyarakat tersebut, dapat digambarkan bahwa kehadiran pihak korporasi sangatlah tidak menguntungkan bagi masyarakat dan lingkungan, kondisi ini merupakan peristiwa buruk yang dihadapi masyarakat untuk keberlangsungan hidup secara berkelanjutan.

Dimana banyak keadaan tidak bersahabat yang dialami masyarakat secara mendasar seperti hilangnya mata pencaharian masyarakat yang memenuhi kebutuhan kehidupan nya. Karena hutan mampu menstabilkan tanah dan iklim dan juga mengatur air mengalir memeberikan ruangan dan tempat tinggal juga bermanfaat menyediakan makanan.

Kini pemuda desa lari ke kota demi memenuhi kebutuhan ekonomi mereka, bagaimana tidak ini mosi tidak percaya kapalaku mau pecah dari kegelisahan hutan yang berkepanjangan ini dari kecil kita sudah disungguhkan dengan pemandangan perkebunan sawit, hutan yang ditebang disana sini sampai sekarang masih belum cukup? bukan suatu hal yang wah lagi orang-orang pada berkonspirasi bahwa negeri ini adalah negeri yang kaya dan mewah sumber daya alamnya karena di bawah dan di atas buminya menghasilkan minyak, dan negeri kertas!

Saya hanya bisa menjawab dengan senyum malu. Masalah lingkungan hidup, pastinya tidak akan pernah terlepas dari kehidupan politik nasional, ekonomi, sosial, dan bahkan hubungan internasiaonal. Oleh karena itu, dibutuhkan peran semua pihak baik pemerintah, masyarakat, maupun para profesional swasta untuk melakukan perbaikan kerusakan yang terjadi pada lingkungan.

Banyak yang percaya bahwa untuk mengatasi penggundulan hutan, orang hanya perlu menanam lebih banyak pohon. Meskipun upaya penanaman kembali besar-besaran akan membantu untuk meringankan masalah yang disebabkan deforestasi, itu tidak akan menyelesaikan semuanya.

Sedih! Iya itu lah raut dari wajah alam ini, karena kita hidup di dunia ini bukan tentang aku, kamu, dan dia tetapi lingkungan hidup juga butuh perhatian dari kita. Dan tolong ketika anda punya anak nantik ajarkanlah mereka sedini mungkin untuk peduli kepada lingkungan.

“Apakah kamu berani, menjadi anak kecil yang melihat segala peristiwa, sebagai senda gurau belaka?”**

 

Oleh: Sukarno alias Kiky

Pendidikan: Diploma D3 Polbeng

         

Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!