Untuk Awasi Makanan Impor, BPOM Disebut Kekurangan SDM

Diterbitkan Tanggal: 26 / 03 / 18

Kategori: | NUSANTARA, PELAYANAN, TODAY |

RIAUEXPRESS, JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR Irma Suryani memahami kelemahan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam mendeteksi makanan import yang kedaluwarsa. Kekurangan SDM membuat BPOM kewalahan mengawasi makanan import.

“Dalam memperketat regulasi yang ada, SDM di BPOM memang harus ditambah, anggarannya juga harus ditambah. Untuk mengawasi makanan 250 juta jiwa kan memang anggaran saat ini tidak memadai, “kata Irma saat dihubungi Medcom.id, Senin (26/03/18).

Irma menambahkan, BPOM hanya ada hingga tingkat provinsi. Sehingga, pengawasan obat dan makanan di tingkat terendah seperti kabupaten, kota, dan wilayah pelosok agak sulit dilakukan.

“SKPDnya (Satuan Kerja Perangkat Daerah) ditempelkan. Sementara SKPD yang hanya ditempelin itu mereka nggak kerjain tuh. Pekerjaannya tidak dikerjakan,” tutur Irma.

Tak hanya itu, minimnya fasilitas laboraturium juga menjadi kendala. Tak jarang, daerah yang jauh dari pusat provinsi tak memiliki laboratorium keliling.

Meski begitu, Irma meminta BPOM tak menjadikan kekurangan ini sebagai alasan tak bisa bekerja optimal dalam mengawasi obat dan makanan yang masuk ke Tanah Air. BPOM harus bisa menindak tegas makanan impor kedaluwarsa.

“Ini juga harus menjadi perhatian BPOM bahwa mereka harus melakukan kerja sama dengan pihak imigrasi,” tegas Irma.

Selain bekerja sama dengan Imigrasi, BPOM diminta mengetahui laporan makanan impor yang masuk di seluruh pelabuhan di Indonesia.

Hal ini dinilai bisa mencegah masuknya makanan kedaluwarsa, seperti kasus sarden kedaluwarsa yang belakangan terjadi.**Red.

 

 

Sumber: metrotvnews

         

Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!