Bukan Hanya Lelaki saja, yang Bisa Jadi Jagoan Industri Teknologi

Diterbitkan Tanggal: 25 / 02 / 18

Kategori: | KOMUNITAS, NUSANTARA, OPINI, TODAY |

Ilustrasi

 

RIAUEXPRESS – Perempuan memiliki banyak tantangan untuk maju di industri teknologi. Namun, empat perempuan ini membuktikan bahwa semua orang bisa jadi pimpinan, tak peduli stereotip apapun yang ada di masyarakat.

Empat perempuan ini yakni Grace Natalia (pendiri situs AsmaraKu), Dayu Dara Permata (SVP GO-JEK, Head of GO-LIFE), Sonia Barquin (Partner, McKinsey&Company), dan Alyssa Maharani (Google Launchpad Accelerator Startup Success Manager).

Mereka jadi pembicara dalam acara “Alpha Female: How We Tech Up”, yang diselenggarakan firma investasi Alpha JWC Ventures.

Keempat pembicara membahas keseimbangan hidup dan karir, bagaimana mendapatkan dukungan untuk maju, hingga bagaimana cara membawa diri di lingkungan kerja yang didominasi laki-laki.

Menurut Sonia Barquin, perempuan butuh kepercayaan diri untuk menjadi lebih proaktif di dunia kerja serta punya contoh atau ‘role model’ yang sesuai.

Menurut dia, riset mengungkapkan bahwa hanya sedikit perempuan yang mau menegosiasikan gaji mereka atau meminta promosi, meskipun mereka mempunyai kemampuan yang memadai.

“Perempuan harus merasa nyaman dengan kemampuan mereka dan berhenti takut untuk meminta lebih,” ujar Sonia, melalui rilis pers ke Kompas.com, Minggu (24/02/18).

“Mengenai role model, seperti yang kita lihat, tidak banyak perempuan yang menduduki posisi kepemimpian di perusahaan. Meskipun sulit, temukan mentormu, buat kelompok yang bisa saling mendukung, dan cari seseorang yang bisa kamu ajak diskusi untuk perkembanganmu.”

Lalu, bagaimana perempuan bisa memimpin di industri yang didominasi laki-laki seperti industri teknologi?

Dayu Dara mengatakan bahwa perempuan bisa memulai dari pencitraan diri, atau self-branding, yang tepat.

Menurut dia, pencitraan bukanlah apa yang kamu katakan pada orang lain, tapi apa yang orang lain bicarakan tentangmu saat kamu sudah di ruangan lain.

“Bagi saya, saya membangun citra saya melalui penekanan terhadap apa yang sudah saya lakukan selama ini dan menjadi percaya diri atas keahlian saya. Lalu, jangan lupa untuk sesekali menanyakan pendapat orang lain mengenai dirimu, dan benahi dirimu dari kritik yang ada.”

Alyssa Maharani, di sisi lain, menekankan pentingnya sistem pendukung (support system) bagi perempuan di dunia kerja.

“Untuk mendapatkan ‘sponsor’ tersebut, kamu harus bekerja baik dengan manager-mu, saling membangun kepercayaan, sehingga mereka bisa dan mau mendorong kamu lebih jauh. Hubungan di dunia kerja cenderung lebih berdasarkan data dan kemampuan, sehingga lebih mudah untuk menemukan ‘sponsor’ melalui hubungan kerja yang baik.”

Diskusi panel juga membahas keseimbangan hidup dan pekerjaan (work/life balance) bagi perempuan. Meskipun banyak yang menganggap keseimbangan hidup dan karir hanyalah mitos, Grace Natalia percaya bahwa hal tersebut bisa dicapai.

“Penting bagi kita sebagai perempuan untuk menemukan ‘keseimbangan’ tersebut, dan tidak ada yang bisa memaksakan pengertian ‘keseimbangan’nya pada orang lain. Jangan membandingkan diri dengan ibu lain atau rekan kerja lainnya. Temukan keseimbanganmu sendiri, dan jangan salahkan dirimu atas itu”.**Red.

 

 

 

Sumber: kompas.com

         

Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!