Kejari Lakukan Pendalaman Dugaan Mar-Up Swakelola Jalan Bengkalis-Bantan Rp20 M 2016

Diterbitkan Tanggal: 12 / 02 / 18

Kategori: | Bengkalis, KORUPSI, TODAY |

RIAUEXPRESS, BENGKALIS – Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkalis, di tahun 2018 ini, sepertinya akan menggarap berbagai kasus Korupsi di wilayah hukum Kabupaten Bengkalis, yang nilai keseluruhan mencapai puluhan milyar rupiah.

Seiring 5 kasus dugaan korupsi sampai kini belum juga tuntas, Kejari Bengkalis kembali menerima laporan dari masyarakat, terkait dugaan Mar-Up proyek swakelola jalan lintas Bengkalis-Bantan 2016 lalu, dengan anggaran kurang lebih Rp20 Milyar.

Perusahaan yang mengerjakan proyek tersebut, PT. Cakramawa Monica Abadi (CMA), dengan dugaan selain anggaran di Mar-Up, juga dalam pelaksanaannya diduga matrial yang digunakan tidak layak pakai.

Menurut Kasi Intel Kejari Bengkalis, Lignauli Sirait, bahwa kasus dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) tersebut, saat ini baru dalam proses pendalaman atas laporan masyarakat tersebut.

“Baru kita pelajari perkaranya. Jadi kita belum bisa menjelaskan banyak, apakah memang benar nanti ada dugaan korupsinya apa tidak, perlu bersabar untuk memastikan hal itu, “bebernya, Senin (12/02/18).

Sebelumnya, 5 perkara Tipikor yang masih menjadi PR Kejari Bengkalis, diantaranya, proyek Ponpes di Desa Pergam, Kecamatan Rupat, menelan anggaran APBD Rp14 M selama 3 tahun secara berturut-turut sejak tahun 2012-2014..

Proyek gedung Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Hubbul Wathan Duri, Kecamatan Mandau, menelan anggaran Rp4,8 miliar tahun anggaran 2016 lalu.

Dugaan Tipikor pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) di Desa Jangkang, Kecamatan Bantan, yang melibatkan oknum mantan Bendahara Desa 2010 hingga 2015 saat itu dijabat AS, dengan kerugian negara Rp418 juta lebih.

Selanjutnya, kasus dugaan Tipikor proyek penelitian Bioenatol di Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Bengkalis 2013 silam, yang telah menerima hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Riau.

Yang terakhir dugaan korupsi anggaran, yang melibatkan mantan Penjabat Kepala Desa (Pj Kades) Desa Batang Duku 2013 hingga 2016 lalu, Harly (H), sejak 21 Agustus 2017 silam namun tidak ditahan.

Karena Harly diduga melakukan korupsi anggaran desa, dari total Rp2,5 miliar hilang menguap sebesar Rp375 juta. Dan tersangka ini juga sudah mengembali kerugian negara Rp200 juta melalui Kejari.**Red.

         

Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!