Awal 2018: Sejak 2015, Harga Minyak Indonesia Capai Level Tertinggi

Diterbitkan Tanggal: 05 / 02 / 18

Kategori: | EKONOMI & BISNIS, NUSANTARA, TODAY |

RIAUEXPRESS, JAKARTA – Harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada Januari 2018 telah menyentuh level US$ 65,59 per barel. Capaian ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2015. ICP berhasil mencapai level di atas itu hanya pada November tahun 2014 yakni US$ 75,4 per barel.

Secara rata-rata ICP sepanjang tahun 2015 bisa mencapai US$ 49,2 per barel. Lalu setahun berikutnya turun US$ 40,13 per barel dan tahun 2017 rata-ratanya US$ 51,19 per barel. “Harga rata-rata minyak mentah Indonesia untuk bulan Januari 2018 ditetapkan sebesar US$ 65,59 per barel, “bunyi diktum kedua Keputusan Menteri ESDM nomor 396 K/12/MEM/2018, Jumat (02/02/18).

Adapun harga jenis minyak Minas (Sumatran Light Crude/SLC) periode Januari 2018 juga berhasil mencapai US$ 65,83 per barel. Angka ini meningkat dibandingkan ICP minas Desember 2017 yang hanya mencapai US$ 61,19 per barel.

Peningkatan ICP ini juga sejalan dengan harga minyak utama di pasar internasional. Harga minyak dunia jenis WTI untuk kontrak Maret 2018 mencapai US$ 65,87 per barel. Bahkan minyak Brent tembus ke angka US$ 69,59 per barel untuk kontrak April 2018.

Ada beberapa penyebab kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa periode terakhir. Energy Information Administration (EIA) USA menyampaikan bahwa naiknya harga minyak mentah selama beberapa bulan terakhir merupakan dampak penurunan stok minyak mentah dan bahan bakar cair lainnya secara global sebesar rata-rata 0,4 juta barel per hari pada 2017.

Namun, EIA memperkirakan stok minyak dunia akan meningkat sebesar 0,2 juta barel per hari pada tahun 2018 dan sebesar 0,3 juta barel per hari pada 2019. Hal tersebut diperkirakan dapat menahan harga minyak dunia pada kisaran USD 60 per barel.

Faktor lainnya adalah adanya keterbatasan pasokan. Negara pengekspor minyak bumi (OPEC) dan Rusia sepakat memperpanjang pembatasan produksi hingga akhir tahun 2018 pada pertemuan 30 November 2017 lalu di Vienna.

Harga minyak dunia juga dipengaruhi kondisi geopolitik di Timur Tengah yang masih memanas. Selain itu juga karena meningkatnya permintaan minyak mentah di China yang diikuti peningkatan permintaan minyak solar, minyak tanah, Liquified Petroleum Gas (LPG), minyak bakar dan bensin.**Red.

 

 

 

 

Sumber: katadata.co.id.

         

Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!