BNN Ungkap Pabrik Narkotika Berkedok Diskotik

Diterbitkan Tanggal: 19 / 12 / 17

Kategori: | BNN, NARKOBA, TODAY |

Foto: kompas.com

 

RIAUEXPRESS, JABAR – Diskotek ternyata bukan hanya tempat peredaran narkotika. Hal ini diketahui dari hasil ungkap kasus Badan Narkotika Nasional (BNN) di Diskotek MG International Club kedapatan memiliki laboratorium narkotika jenis sabu dan ekstasi cair, Minggu (17/12/17) kemarin.

Tak tanggung-tanggung, laboratorium narkotika itu telah beroperasi selama dua tahun. Lima karyawan diskotek ditangkap, pemilik dan operator laboratorium buron. Pantauan Jawa Pos, gedung Diskotek MG di Jalan Tubagus Angke, Grogol, Jakarta Barat, berlantai tiga itu tampak seperti diskotek lainnya. Di lantai satu tidak ada sesuatu yang mencolok. Lantai itu difungsikan sebagai diskotek. Ada bar dan sejumlah meja-kursi pengunjung. Sedangkan lantai dua belum difungsikan karena masih dalam tahap pembangunan.

Namun, di lantai tiga barulah tampak ruang besar dengan peralatan laboratorium narkotika. Beberapa jeriken tersusun beserta sejumlah mesin yang tidak diketahui fungsinya. Serta terdapat bermacam-macam zat kimia.

Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari mengatakan, pada awalnya dilakukan razia terhadap pengunjung dan pengelola tempat hiburan malam tersebut. Saat dites urine diketahui 120 orang positif menggunakan narkotika. ’’Lalu ditangkap lima orang yang mengedarkan sabu dan ekstasi,” jelasnya.

Kelimanya merupakan karyawan dari diskotek tersebut. Antara lain Wastam (43), Dedi Wahyudi (40), Fadly (40), dan Mislah (45). Saat diminta menunjukkan lokasi penyimpanan narkotika, diketahuilah di lantai tiga ternyata bukan hanya diskotek. Namun juga merupakan lab. narkotika dengan skala yang besar. ’’Operasi ini dipimpin Kepala BNN Komjen Budi Waseso dini hari tadi,” tuturnya.

Ada berbagai jenis zat prosekusor yang ditemukan dalam lab. tersebut. Di antaranya cairan amphetamine dan methamphetamine. Serta ditemukan 80 botol yang berisi sabu dan ekstasi cair. ’’Narkotika cair ini dicampur dengan alkohol,” terang jenderal berbintang dua tersebut.

Berapa kapasitas produksi lab. atau pabrik narkotika tersebut? Arman menuturkan, kapasitasnya cukup besar, namun guna memastikannya perlu dilakukan pemeriksaan mendalam. Termasuk melakukan uji lab. untuk mengetahui zat apa saja yang ada di pabrik ekstasi itu. ’’Kami masih mengejar pemiliknya bernama Rudi dan seorang operator laboratorium ini,” ujarnya kemarin.

Dari pemeriksaan awal diketahui bahwa laboratorium narkotika tersebut telah beroperasi selama dua tahun. ’’Untuk peredarannya baru diketahui hanya pada pengunjung diskotek yang menjadi member dari diskotek tersebut. Namun akan didalami kemungkinan peredarannya ke tempat lain,” paparnya.

Untuk satu botol sabu dan ekstasi cair yang telah dicampur alkohol ini dihargai Rp400 ribu. Dia menjelaskan, efeknya pada pengguna cukup kuat karena bisa terasa sampai dua hari. ’’Dari pengunjung itu efeknya dua hari,” terangnya.

Dari mana asal zat-zat narkotika itu? Arman menjelaskan bahwa semua masih didalami. Ada kemungkinan narkotika cair ini dari luar negeri. ’’Kan pemiliknya masih dalam pengejaran,” tandasnya.**Red.

 

Sumber: jawapos.

         

Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!