Menurut Praktisi Hukum Pidana, Eri Jack Tak Akan Lepas Dari Jeratan Hukuman Mati

Diterbitkan Tanggal: 19 / 11 / 17

Kategori: | NARKOBA, TODAY, TOKOH |

Jon Hendri SH, MH

 

RIAUEXPRESS, BENGKALIS – Kini kasus yang sedang menjerat warga Desa Jangkang, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, Heri Kusnadi alias Eri Jack, yang telah dituntut mati oleh JPU di PN Bengkalis, Kamis (16/11/17) menjadi perbincangan hangat dari berbagai kalangan.

Pasalnya, kasus yang menjerat Erik Jack ini terkuak, berangkat dari penangkapan 2 orang kurir Z dan A pada hari Jum’at (07/04/17) lalu oleh tim Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau, dengan mengamankan dua mobil, yang berisi satu mobil 20 Kg sabu dan 150 ribu butir pil ekstasi, dan mobil lainnya 20 Kg sabu dan 10 ribu butir ekstasi di Kabupaten Siak lintas Pekanbaru.

Barang bukti berupa narkotika jenis sabu dan pil ekstasi yang diamankan di Kabupaten Siak beberapa bulan lalu tersebut, sesuai hasil penyelidikan Polda Riau, merupakan produk buatan Tiongkok, tapi dibeli dari Negara Malaysia.

Dan dari pengembangan pihak Ditres Narkoba Polda Riau ini, tersebutlah nama pemilik sabu 40 Kg dan 160 ribu pil ekstasi itu, adalah Heri Kusnadi alias Eri Jack, yang merupakan warga Desa Jangkang, Kecamatan Bantan.

Sehingga Polisi melakukan pengejaran pada Eri Jack dirumahnya Desa Jangkang. Meskipun saat itu Eri Jack bersembunyi dalam tangki air atas rumah. Pada akhirnya berhasil ditangkap dengan barang bukti 11 gram sabu, paspor, tanda pengenal Malaysia dan Surat Izin Mengemudi Internasional didalam rumah tersebut.

Selanjutnya kasus ini disidangkan di tempat sesuai Tempat Kejadian Perkara (TKP). Untuk kasus 2 kurir inisial Z dan A yang tertangkap di Kabupaten Siak, persidangannya di PN Siak, dengan barang bukti 40 Kg sabu dan 160 ribu pil ekstasi. Sedangkan, Eri Jack sendiri disidangkan di PN Bengkalis dengan barang bukti 11 gram sabu.

Sampai saat ini, ketiga terdakwa yang diduga satu mata-rantai peredaran narkoba tersebut, masih dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) masing-masing TKP. Dan ketiga orang ini belum sampai ke titik akhir putusan (vonis) oleh Majelis Hakim.

Dari berbagai persoalan dalam kasus ini, timbul berbagai pertanyaan publik, apakah bisa Eri Jack dituntut hukuman mati, ketika persidangan di tempat berbeda dengan 2 orang kurir membawa sabu 40 Kg dan 160 ribu pil ekstasi tersebut, dan barang bukti Eri Jack yang ditemukan Polisi di rumahnya hanya 11 gram sabu. Meskipun dari hasil pengembangan penyidik, bahwa BB yang di Siak tersebut, sesuai keterangan 2 kurir adalah milik Eri Jack.

Terkait hal ini, Praktisi Hukum Pidana Jon Hendri SM, MH menyampaikan, bisa saja Eri Jack dituntut hukuman mati, apabila memang memenuhi 2 alat bukti yang sah dan juga pihak penegak hukum bisa membuktikan dengan bukti yang otentik.

“Dari pandangan saya, tidak ada persoalan tuntutan mati terhadap Eri Jack. Tapi akan menjadi masalah apabila dua alat bukti tersebut tidak ada. Oleh karena itu sekarang perlu dilihat adalah alat bukti yang diajukan oleh JPU, apakah sudah cukup memenuhi dalam tuntutan mati terhadap Eri Jack, atau tidak “jelasnya, Minggu (19/11/17).

Dia beberkan, yang pertama perlu diketahui indonesia adalah negara hukum, sesuai dengan pasal 1 ayat 3 UUD 1945, dengan arti semuanya harus mengikut hukum acara yang ada, mengenai pertanyaan tentang tempat sidang yang berbeda, itu sah-sah saja dalam hukum pidana, tergantung tempat kejadian perkara atau locus delicti dilakukan apakah ada ditemui atau tidak unsur pidananya.

Kedua, dalam pasal 184 ayat 1 KUHAP, Pengadilan Negeri berwenang mengadili segala perkara mengenai tindak pidana yang dilakukan dalam daerah hukumnya. artinya pengadilan tidak punya kewenangan mengadili selain wilayah hukumnya. Sehingga lihat dulu tempat kejadian perkara, dimana perkara itu terjadi.

“Dalam pasal 184 KUHAP, Alat bukti yang sah adalah,1. Keterangan saksi, 2. Keterangan ahli, 3, Surat, 4. Petunjuk, 5. Keterangan terdakwa. Messenger juga bisa dijadikan alat bukti digital, apabila pesan yang disampaikan tersebut memang otentik dan dengan disertai keutuhan pesan, “tambah Jhon.

Sebab itu, aparat penegak hukum harus bisa membuktikan dipersidangan, jika perlu ditampilkan bunyi pembicaraannya seperti apa, kapan dan dimana, agar penegakan hukum bisa berjalan sesuai dengan prinsip keadilan dan kepastian hukum, karena merupakan persoalan kehidupan manusia, dan jangan sampai ada yang dirugikan.

Sebelumnya, JPU menuntut hukuman mati terhadap Eri Jack, karena terdakwa memang terbukti bersalah dengan dijerat pasal Pasal 114 ayat (2) Jo 132 ayat (1) UU Nomor 35/2009 tentang Narkotika, dan Pasal 112 ayat 2 UU Nomor 35/2009 tentang Narkotika.**Red.

         

Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!