Dugaan Korupsi Gedung Hubbul Wathan, Pekan Depan Direktur Pelaksana Akan Dipanggil Jaksa

Diterbitkan Tanggal: 02 / 08 / 17

Kategori: | BENGKALIS, KORUPSI, TODAY |

RIAUEXPRESS, BENGKALIS – Tujuh orang yang dipanggil oleh pihak Kejari Bengkalis, terkait penyelidikan proyek dugaan korupsi pembangunan gedung Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Hubbul Wathan Kota Duri, Kecamatan Mandau. Kini semuanya telah memenuhi undangan.

Sehingga diperkirakan pekan depan, Direktur pelaksana proyek tahun 2016 lalu, yakni PT. Cahaya Laksamana Putra Abadi (CLPA), dengan anggaran Rp. 4,8 M yang telah diterminj 100 persen akan dilakukan pemanggilan.

Hal ini disampaikan Rahman Dwi Saputra melalui Kasi Pidsus Arief S Nugroho, bahwa dari tujuh orang yang dipanggil, semuanya telah memenuhi undangan. Yang terakhir Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Bengkalis, Bustami ST, telah datang ke Kejari memenuhi panggilan pada hari Rabu 18 Juli kemarin.

“Sehingga penyelidikan untuk tujuh orang terkait dugaan korupsi pembangunan gedung STAI Hubbul Wathan Kota Duri tahun 2016 ini, kita nyatakan telah tuntas, “ungkapnya pada sejumlah media, Rabu (02/08/17) di ruang kerjanya.

Oleh karena itu, dalam penyelidikan selanjutnya ini, tambah Arief, pekan depan Direktur Pelaksana proyek gedung STAI Hubbul Wathan 8 ruangan dua lantai tersebut akan dilakukan pemanggilan.

Dari tujuh orang yang telah dipanggil pihak Kejari melalui Bagian Pidana Khusus Bengkalis tersebut, seperti Plt. Kadis PU Tajul Mudarris yang saat itu selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA)

‎Lalu Bendahara di BPKAD Bengkalis, Maliki. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Ngawidi, Ketua Yayasan Hubbul Wathan Buya Hamka, Konsultan Perencana, Kabag Persidangan Sekwan Misran.

Selanjutnya yang juga telah memenuhi pemanggilan Kejaksaan sebagai saksi dalam penyelidikan kasus tersebut, yakni Kabag Keuangan Dinas PU Adi Rahman dan yang terakhir Kepala BPKAD Bengkalis, Bustami ST.

Sebelumnya telah diberitakan, Kasi Pidsus Arief S Nugroho menyampaikan, proyek tersebut ‎seharusnya yang menganggarkan di Dinas Pendidikan, tapi malahan anggaran di Dinas PU. Dan proyek gedung Kampus 2016 lalu telah dibayar 100 persen, namun orang-orang kampus hanya memakai 1 lokal dilantai bawah.

Selain belum ada serah-terima, pihak Kampus juga hanya menerima kunci, karena mereka ada rasa takut jika gedung akan roboh. Sebab bangunan 8 lokal 2 lantai itu sudah banyak yang retak, serta kamar mandi tidak bisa berfungsi secara maksimal.**Red.

         

Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!